Jumat, 23 September 2011

Thoriqoh (Jalan Menuju Allah)

Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud al-mizalah).
Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah atau limpahan pertolongan dari guru.

Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naksibandiyah, Tarekat Rifa'iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (Suawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja.

Pembagian Thoriqah

Thoriqah secara garis besar terbagi menjadi tiga jenis, yaitu 1. Thoriqah umum, 2. Thoriqah dzikir, 3. Thoriqah tashawuf.

1. Thariqah umum adalah menjauhi hal-hal yang haram, yang makruh, dan hal-hal yang mubah yang tidak berguna, serta melaksanakan hal-hal yang wajib, dan sekuat tenaga melaksanakan hal-hal yang sunah.

2. Thariqah dzikir adalah mendawamkan dzikir dengan jumlah dan tatacara tertentu di bawah asuhan seorang mursyid.

3. Thariqah tashawuf adalah cara tertentu yang dilakukan oleh para pelaku suluk menuju kepada Allah Swt dengan memilih perilaku yang paling berhati-hati dalam segala perbuatan seperti wira’i, ‘azimah (memilih hukum yang utama, bukan yang murah) dan riyadlah untuk menghindari kemewahan duniawi, dengan menempuh beberapa pos dan peningkatan maqam demi maqam. (Kifayatul Atqiya’ hal. 10).

Dasar : - Tanwirul Qulub hal. 415 - Khazinatul Ashrar hal 16

- Jaami’ul Ushul hal. 335; At-Ta’rifat hal. 123 - Al-Ma’ariful Muhammadiyyah hal. 81

- Kifayatul Azkia hal. 10

Tanwiirul Quluub hal. 415 :

والطريقة هي اجتناب المحرمات والمكروهات وفضول المباحات وأداءالفرائض ومااستطاع من النوافل تحت رعاية عارف من اهل النهايات.

“Thariqah adalah menjauhi hal-hal yang haram, yang makruh, dan hal-hal yang mubah yang tidak berguna, serta melaksanakan hal-hal yang wajib, dan sekuat tenaga melaksanakan hal-hal yang sunah, di bawah asuhan seorang mursyid yang arif yang maqamnya tinggi”.

Jaami’ul Ushul hal. 335 :

والطريقة هي السيرة المختصة بالسالكين الى الله تعالى مع قطع المنازل والتراقي في المقاماة

“Thariqah adalah cara tertentu yang dilakukan oleh para pelaku suluk menuju kepada Allah Swt dengan menempuh beberapa pos dan peningkatan maqam demi maqam”.

Khazinatul Ashrar hal. 16 :

وقال الشيخ ابو على الدقاق لوان رجلا يوحى اليه ولم يكن له شيخ لايجيء منه شيء من الأسرار.

“Syekh Abu Ali al-Daqqaq berkata: Seandainya seseorang (selain Nabi) diberi ilham tanpa memiliki guru, maka tidak ada sedikitpun keberkahan yang didapat darinya”.

Al-Ma’ariful Muhammadiyyah hal. 81 :

كان علي كرم الله وجهه سأل النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله دلنى على اقرب الطرق الى الله تعالى واسهلها على عباده وافضلها عند الله تعالى فقال يا علي عليك بمداومة ذكرالله فى الخلوات فقال علي هكذا فضيلةالذكر وكل الناس ذاكرون فقال صلى الله عليه وسلم يا علي لاتقوم الساعة وعلى وجه الأرض من يقول الله, الله. فقال علي كيف اَذكر يارسول الله فقال غَمِّضْ عينيك وَاسمع منى.

“Ali karamallahu wajhah telah bertanya kepada Rasulullah Saw: Wahai Rasulullah, tunjukkanlah saya ke jalan terdekat menuju Alaah Swt yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya dan paling utama bagi Allah! Jawab Rasulullah Saw: Wahai Ali, biasakanlah berdzikir kepada Allah secara istiqamah pada saat khalwat. Kata Ali: Begitulah keutamaan dzikir dan seperti itulah orang-orang akan berdzikir. Selanjutnya Rasulullah Saw bersabda: Wahai Ali, kiamat tidak akan terjadi selama di muka bumi masih ada orang yang mengucapkan Allah, Allah. Lalu Ali bertanya: Bagaimana cara saya berdzikir, wahai Rasulallah? Beliau menjawab: Pejamkan kedua matamu kemudian dengarkan saya!”

- والله اعلم

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution